untuk ibu..

•Desember 18, 2008 • 1 Komentar

Ibu, hatiku sungguh penuh sesak, ijinkan aku pulang saja. Segala kananku sudah terlalu lama terkungkung dalam-dalam. Ini saatnya waktuku meluber keluar. Aku terlalu lelah terjebak dalam bifukasi kanan dan kiri, ibu.., kumohon jangan biarkan aku mati.

Lagi-lagi aku bertaruh dengan langit, siapa yang lebih lama bertahan mengeluarkan air hari ini. Aku dengan mataku, dan langit dengan segala yang membentang padanya. Sungguh dadaku penuh sesak, hari ini. Lagi.

Iklan

^_^

•Desember 18, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Minggu, 14 Desember 2008.

Hari ini aku belajar banyak hal. Seharian ini aku sudah cukup banyaak mrnangis. Aku dulu adalh orang yang gak pernah mau mengalah. Bagiku, jika aku benar berarti aku harus memperjuangkannya. Tapi kau sadar, sifat teguh egoisku telah perlahan membuat aku telah berubah menjadi pendendam. Dendam adalah penyakit hati, dank au tak mau lagi hatiku digerogoti, dirusak oleh penyakit itu. Aku mulai belajar menjadi sabra, belajar diam dan mengalah saja. Aku selalu percaya Allah punya hukuman buat yang salah, tapi aku tak pernah puas sebelum menghukumnya dengan caraku sendiri. Tapi kini, aku percaya Allah selalu punya caranyasendiri dalam menyelesaikan semua. Aku tak mau dendam lagi, biarlah pengecut tetap sembunyi diblakang kentut. Aku mau mengobati penyakit hatiku. Ada pesan Allah di setiap kisah kehidupan. Aku yakin Allah menciptakanku sebagai orang baik, dan aku tak mau merusak ciptaanNya.

ini rasaku

•Desember 18, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari ini. Desember 2008. entah tgl berapa,

Hei!!!, Langit diluar sana ayo beradu air mata denganku. Perasaan kita sudah sama-sama mendung, Tinggal bertaruh siapa yang lebih lama menumpahkan air mata. Aku yakin kali ini aku menang, sakit hatiku pagi ini sudah begitu cukup menjadi impuls glandula lakrimalisku untuk sekresi berlebih. Sudah lama juga aku tak mengair mata, Sakitnya fitnah sudah lama aku pendam dalam bentuk diam, kesabaran, yang penuh paksaan. Aku tak pernah ikhlas harga diriku diinjak-injak, Aku juga tak pernah ikhlas nama baikku dirusak dan dibicarakan tentang apa yang bukan-bukan. Aku tak pernah ikhlas ada berita salah tentangku yang menyebar diluar sana. Seharusnya sejak dari dulu aku sadar, menjadi orang baik hanya bisa jadi bahan fitnahan, menjadi sabar juga hanya bisa menyakitkan. Tak perlu bersikap baik, tak perlu sabar pada orang-orang yang lebih pantas disebut setan. Aku muak dengan kata sabar, muak dengan kata positif thingking, muak dengan nasehat orang yang menyuruhku bersabar dan menganggap ini hanya ujian. Kesabaran tingkat apa lagi yang hrus aku keluarkan?, Anjing tak bisa dikasih tulang yang cuma bisa diam saja. Anjing yang cuma berani gonggong dibelakang kentut harus dilawan, diculik, dianiaya, dicekik, ditelanjangi, disuruh kawin sesama anjing, direkam adegan mesumnya dan diedarkan videonya ke seluruh dunia. Biar anjing yang tak tahu malu tahu rasanya malu!!!.

Menghadapi orang jahat juga harus jahat. Orang jahat tukang tipu yang juga sekaligus perampok dan penyandang gelar pengecut!!!. Orang jahat berwajah mak lampir yang cuma brani dibelakang kentut!. Hhh.., ini sudah ketiga kalinya aku mengahdapi perempuan tukang fitnah, tukang tipu yang juga pengecut, meski orangnya berbeda tetapi sungguh ajaib punya nama yang sama. LIA!!!. Hhh.., LIA yang LIAR sekaligus LOOSer. Aku dah bisa maafin Lia yang dulu, meski bukan kebenaran yang absolute yang aku dapatkan tapi setidaknya dulu aku dah buktiin kalo aku gak salah, aku difitnah. Lia yang tukang tipu, tukang putar balik fakta. Dan Sekarang, lia yang sekarang jauh lebih pengecut dari sebelumnya, benar2 cuma berada dibelakang kentut. Penakut yang cuma berani monyongin mulut. Dengan segenap rasa, aku bilang “Aku benci dia!!!”.

Meski dalam hati sebenarnya aku juga bersedih, karena tanpa sadar aku justru sering mnjadi orang-orang yang aku benci. Apa namanya? Karma personal yang perlahan mempengaruhi kepribadianku. Aku perlahan telah menjelma seperti mereka. Aku gak mau jadi orang jahat, aku tersiksa, meski terkadang aku menikmatinya. Menikmati ketika orang yang yang aku benci tersakiti. Awalnya aku menganggap itu sebagai bentuk balasan atas sakit hatiku, biar mereka juga bisa merasakan sakitnya aku. Tapi.. perlahan aku sadar, apa bedanya aku dengan mereka. Ahhh.. apakah menjadi sabar yang harus menjadi solusinya??..

Aku tersiksa dengan segala bentuk kesabaran, aku tak mau selalu saja bersikap diam dan pura-pura sabar. Aku, dalam hatiku, rasanya ingin saja melawan, ingin jahat seperti mereka, tapi aku takut.,.. takut menjadi jahat seperti mereka. Ya allah ijinkan aku amnesiaaaaa, amnesia sedikit saja. Aku tersiksa dengan otak dan hatiku yang tak mudah melupa.

catatan ceNuL hari ini: perempuan-perempuan

•November 5, 2008 • 1 Komentar

4 november 2008

Kali ini, entah kegundahan macam apa yang tengah menggelayuti pikirku. Ada sibak mata aneh dari dia dan mereka yang nampaknya telah berubah padaku. Entah kesalahan maha apa yang telah aku lakukan? Aku tak tahu. Sepenuh hati aku selalu berusaha menjaga tiap kata, langkah, bahkan untuk sangka. Aku tahu hati perempuan setipis sutra, sedikit tertusuk jarumpun, meski tak kelihatan tetap saja mengimbuh luka. Maafkan aku perempuan-perempuan. Aku tak mau menusuk suteramu, aku juga terlalu takut, bahkan untuk bersangka-sangka.

catatan ceNuL hari ini: perempuan

•November 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Perempuan…

Hhh.., aku juga perempuan. Mendengar, melihat, dan mengetahui apa yang mereka lakukan aku diam saja. Tersenyum, menyembunyikan tawaku atas drama jenaka yang menggelitik hati. Aku menggeliat, otakku tertawa merasakan reaksi perempuan beradu lidah.

Ah.., perempuan…

Aku juga!

LENTERA JIWA

•November 4, 2008 • 1 Komentar

Kubiarkan ku mengikuti suara dalam hati
yang slalu membunyikan cinta
ku percaya dan ku yakini murninya nurani
menjadi penunjuk jalanku, lentera jiwaku..”
song: Nugie–Lentera Jiwa

Andaikan saja menuruti kata hati semudah menyanyikan lagu ini, mungkin sekarang aku tidak lagi ada disini. aku tahu, bukan disini panggilan lentera jiwaku. aku bahkan sangat mengerti, lentera jiwa itu tidak menuntunku kesini. tapi aku tidak pernah berani mengambil keputusan untuk benar-benar mengikuti panggilan suara hatiku. aku hanya sesekali saja meliriknya, meski kadang ku pandangi hingga menyilaukan mata tapi langkahku masih berlari menjauhinya, membiarkan cahaya itu tertinggal di belakangku.
gelap memang, hanya ada sebongkah obor kecil menemaniku. tapi aku memaksakan mataku untuk akrab dengan kegelapan, mampu melihat kanan dan kiri, depan, dan tak pernah ku biarkan menoleh ke belakang.
apakah aku harus kembali, menemui lentera jiwaku dan memintanya menemaniku? ya, dengan begitu mungkin aku akan lebih bahagia.
Ahh,,tapi sekali lagi aku tidak pernah berani. aku diam saja mendengar otak kananku berontak meminta energi yang sama. memang, porsi energiku telah mengolengkan perahu otakku ke kiri. untung saja aku belum sempat tenggelam. sisa-sisa energi untuk otak kananku masih menyelamatkan perahu ini tetap berlayar. walaupun terseok, meski harus tertatih, aku tak ingin peduli…

catatan ceNuL hari ini: substansi

•Oktober 30, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Seharian ini mataku terbakar, panas.Padahal air tak juga berhenti mengalir. Ada godam rasa maha dahsyat yang meruntuhkan katup lakrimalisku. Ritual siklis yang berawal dari kata dan  selalu mengakhir pada air mata.  Hhh…, menangis bukan lagi menjadi kejadian aksidental bagiku. Ini sudah menjadi substansi hidupku yang  jika hilang berarti aku tak hidup.

Tolong hapus jutaan byte berleih dari memoriku. Menjadi amnesia mungkin bisa menyembuhkanku.