ini rasaku

Hari ini. Desember 2008. entah tgl berapa,

Hei!!!, Langit diluar sana ayo beradu air mata denganku. Perasaan kita sudah sama-sama mendung, Tinggal bertaruh siapa yang lebih lama menumpahkan air mata. Aku yakin kali ini aku menang, sakit hatiku pagi ini sudah begitu cukup menjadi impuls glandula lakrimalisku untuk sekresi berlebih. Sudah lama juga aku tak mengair mata, Sakitnya fitnah sudah lama aku pendam dalam bentuk diam, kesabaran, yang penuh paksaan. Aku tak pernah ikhlas harga diriku diinjak-injak, Aku juga tak pernah ikhlas nama baikku dirusak dan dibicarakan tentang apa yang bukan-bukan. Aku tak pernah ikhlas ada berita salah tentangku yang menyebar diluar sana. Seharusnya sejak dari dulu aku sadar, menjadi orang baik hanya bisa jadi bahan fitnahan, menjadi sabar juga hanya bisa menyakitkan. Tak perlu bersikap baik, tak perlu sabar pada orang-orang yang lebih pantas disebut setan. Aku muak dengan kata sabar, muak dengan kata positif thingking, muak dengan nasehat orang yang menyuruhku bersabar dan menganggap ini hanya ujian. Kesabaran tingkat apa lagi yang hrus aku keluarkan?, Anjing tak bisa dikasih tulang yang cuma bisa diam saja. Anjing yang cuma berani gonggong dibelakang kentut harus dilawan, diculik, dianiaya, dicekik, ditelanjangi, disuruh kawin sesama anjing, direkam adegan mesumnya dan diedarkan videonya ke seluruh dunia. Biar anjing yang tak tahu malu tahu rasanya malu!!!.

Menghadapi orang jahat juga harus jahat. Orang jahat tukang tipu yang juga sekaligus perampok dan penyandang gelar pengecut!!!. Orang jahat berwajah mak lampir yang cuma brani dibelakang kentut!. Hhh.., ini sudah ketiga kalinya aku mengahdapi perempuan tukang fitnah, tukang tipu yang juga pengecut, meski orangnya berbeda tetapi sungguh ajaib punya nama yang sama. LIA!!!. Hhh.., LIA yang LIAR sekaligus LOOSer. Aku dah bisa maafin Lia yang dulu, meski bukan kebenaran yang absolute yang aku dapatkan tapi setidaknya dulu aku dah buktiin kalo aku gak salah, aku difitnah. Lia yang tukang tipu, tukang putar balik fakta. Dan Sekarang, lia yang sekarang jauh lebih pengecut dari sebelumnya, benar2 cuma berada dibelakang kentut. Penakut yang cuma berani monyongin mulut. Dengan segenap rasa, aku bilang “Aku benci dia!!!”.

Meski dalam hati sebenarnya aku juga bersedih, karena tanpa sadar aku justru sering mnjadi orang-orang yang aku benci. Apa namanya? Karma personal yang perlahan mempengaruhi kepribadianku. Aku perlahan telah menjelma seperti mereka. Aku gak mau jadi orang jahat, aku tersiksa, meski terkadang aku menikmatinya. Menikmati ketika orang yang yang aku benci tersakiti. Awalnya aku menganggap itu sebagai bentuk balasan atas sakit hatiku, biar mereka juga bisa merasakan sakitnya aku. Tapi.. perlahan aku sadar, apa bedanya aku dengan mereka. Ahhh.. apakah menjadi sabar yang harus menjadi solusinya??..

Aku tersiksa dengan segala bentuk kesabaran, aku tak mau selalu saja bersikap diam dan pura-pura sabar. Aku, dalam hatiku, rasanya ingin saja melawan, ingin jahat seperti mereka, tapi aku takut.,.. takut menjadi jahat seperti mereka. Ya allah ijinkan aku amnesiaaaaa, amnesia sedikit saja. Aku tersiksa dengan otak dan hatiku yang tak mudah melupa.

Iklan

~ oleh duniamayaku7b pada Desember 18, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: