PurNama (sekali lagi)
Sebulat penuh yang merah
Menguarkan aroma magis,
Meraja di tengah bentang gelap yang terhampar
Masih adakah tersisa senja di ufuk sana?
Tetapi semburat telam silam
Hanya hitam menyelimuti malam, merayap pelan
Sebulat penuh yang merah
Masih terdiam anggun,
(ataukah angkuh?)
Tak bergeming ditingkah angin
Sesekali tersenyum meski tawar, hambar
Sendiri,
Bergerak, terderak tanpa iringan penjaga
Hanya dia
Sebulat penuh yang merah
Meruap tanpa kehilangan paras,
yang menjadi egois, sadis
Tak lagi sendu mengibu
Tatapnya tajam, nyalang,
Membakar setiap denyut yang datang
Sebulat penuh yang merah
Menyisakan repihan misteri
Ketika gelap menjadi begitu panjang,
Sunyi saja,
tanpa orion,
tanpa tarian bintang berekor
@ kota perantauan terMalang,
tiwi.

Tinggalkan Balasan