19Agustus 2010
Alhamdulillah,mungkin itu satu-satunya kalimat sakti yang mampu membantu meneguhkan hati saya. Ya.., sepedih apapun selayaknya saya memang harus tetap mampu mengucap syukur. Syukur atas sebuah bentuk keberkahan yang sebenarnya memang tengah membuat saya bersedih. Entahlah, sebaiknya memang saya harus selalu berprasangka baik pada Allah atas semua tahapan pada fase hidup yang ternyata memang penuh kejutan ini. Ada kebijakan dan kejutan nikmat baru yang mungkin tengah Allah persiapkan buat keluarga kecil kami, kejutan nikmat yang memang belum bisa kami mengerti saat ini. Bukankah Allah memang Yaa ‘Aliimun??, jadi buat apa pula saya meragukan segala bentuk rencana-rencanaNya. Allah… sepenuhnya saya meyakini bahwa memang hanya Engkau yang punya kuasa atas segala bentuk rizki.
Hari ini, Sekitar jam 5 sore lebih.
Secara resmi saya telah kehilangan janin saya. Sedih. Cukup kata itu yang bisa menggambarkan perasaan saya, sebab memang tak akan cukup kata-kata untuk menghiperbolakan perasaan saya saat itu.Kesedihan karena merasa kehilangan sesuatu yang memang sebenarnya belum resmi kita miliki.
Saya sempat menangis, sendirian berlama-lama di kamar mandi. Apalagi ketika itu saya sedang mengalami persalinannya seorang diri, merasakan dua gumpalan besar meluncur keluar dari tubuh saya. Ah.., entah bagaimana saya harus mengaksarakan perasaan saya, susah. Sebab saat itu, ketika janin resmi melepaskan diri dari rahim saya, seketika itu pula saya ter-pause pada metaphase momen kehilangan. Stagnant, terskak mat tepat ditengah keyakinan menjadi pemenang.Allah…, Subhanalaah… memang sesungguhnya hanya engkau yang punya kuasa atas segala bentuk rizki.
Dua gumpalan itu jika dilihat dari jauh maka akan kelihatan seperti isi perut ikan. Besarnya hampir memenuhi telapak tengah tangan saya. Bukan berupa gumpalan darah berwarna merah seperti yang selama ini saya bayangkan, tapi benar-benar serupa jaringan besar berwarna bening ke abu-abuan.Dua gumpalan besar yang memang terpisah. Saya sudah bisa lihat satu gumpalan yang terdiri atas sebentuk jaringan bertali dengan ujung melebar berkerut serupa ujung usus ayam yang sudah matang, bentuknya lingkaran tipis,seperti cakram berwarna krem blewah, berdiameter sekitar 2,5 cm, mungkin itu yang dinamakan calon plasenta yang selama dua minggu lebih ini tengah berjuang keras mencengkeramkan dirinya pada dinding rahimku yang mungkin kurang kokoh ini.
Digumpalan kedua Saya juga bisa melihat calon amnionnya, serupa kantong yolk yang besarnya sebesar mata ikan bandeng. Dengan sekelilingnya berupa zygot kecil tak berbentuk, berwarna abu-abu bening. Subhanallah… baru berumur dua mingguantapi sudah sebesar dan berbentuk seperti itu..
Ah,sebenarnya saya cukup banyak menangis atas kejadian kehilangan itu, mungkin tangisan itu pula yang menjadi bentuk kecintaa nsang calon ibu pada calon anak yang sekali lagi memang belum resmi dimiliki.Tapi fase kehilangan janin itu sekaligus menjadi jawaban mengapa Allah memilihkan Didik habibullah sebagai suami saya.
Saya bersyukur mempunyai suami seperti suamisaya yang tak pernah berhenti membesarkan hati saya, yang seketika itu rela menyempatkan waktunya untuk menemani saya, membiarkan bagian dadanya menjadi tempat bagi saya menenggelamkan muka sambil meraung tangis sejadinya, suami yang dengan elusan lembut di rambut dan sedikit kata-kata yang mampu merubah suasana hati saya dari fase kehilangan menjadi fase bersyukur yang dalam.
“Pasti Ada hikmah besar yang memang saat ini belum kita mengerti, bukankah Allah itu maha mengetahui, Yaa ‘Aliimun???” kata suami saya.
sabtu,21 Agustus 2010
Menjadi kambuh atas sesuatu yang memang sepenuhnya belum sembuh memang adalah sebuah kewajaran, tak apalah ketika sesekali teringat dan menimbulkan serangan tangis mengiris. Tapi menjadi bangkit adalah hal hebat yang akan kembali meneguhkan bahwa kita layak mendapatkan amanat. Bukankah Allah memang Yaa ‘Aliimun????…

Komentar Terakhir